pegasus di malioboro

385726_4326597057571_1627802695_n

598865_4326609057871_180448324_n

Seni Rupa Logam Timbul Raharjo

Oleh Mikke Susanto

Jika Anda menikmati desa wisata keramik di Desa Kasongan Yogyakarta, setelah masuk pintu gerbang desa akan melewati sebuah jalan utama di wilayah tersebut. Jalan ini membelah dari timur hingga barat. Jalur wisata atau kawasan ini tergolong ramai.

Sesekali penuh sesak oleh kendaraan besar seperti bis, truk, maupun mobil pribadi. Di jalan utama itulah terdapat kompleks penjualan hasil kerajinan keramik. Jalan aspal yang membelah desa ini pun dilintasi oleh Sungai Konteng yang bersumber dari Gunung Merapi yang membujur dari utara ke selatan.

Diantara pertemuan antara jalan aspal dan sungai yang membelah desa tersebut terdapat sebuah “supermarket” keramik.  Saya namakan “supermarket” karena secara fisik toko yang digunakan tergolong besar seperti hanggar pesawat.

Materi yang dijual pun terdiri dari berbagai jenis karya keramik/gerabah yang berharga murah hingga tinggi. Semuanya berasal dari desa tersebut. “Supermarket” keramik ini bernama CV. Timboel Keramik. Sesuai nama pemiliknya, toko ini dimiliki oleh Timbul Raharjo (l. 1969).

Timbul Raharjo sampai saat ini memang dikenal sebagai pengusaha keramik. Usahanya dimulai sejak tahun 1997. Begitu terkenalnya, sehingga sepuluh tahun kemudian, ia mendapatkan Penghargaan Upakarti (2007) dari Presiden SBY.

Selain sebagai pengusaha, ia juga bekerja sebagai dosen di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Pekerjaannya yang lain adalah sebagai seniman. Pekerjaan sebagai pengusaha keramik dan seniman terkesan sama, tak berbeda. Jika ditelusuri, pekerjaan ini ada bedanya kok.

Jika sebagai pengusaha keramik, ia memakai seni yang berorientasi pada pasar. Adapun sebagai seniman, orientasi tersebut (agak atau lebih) sering dinomorduakan. Idealisme dan keinginan untuk bereksperimentasi lebih diutamakan. Sebagai pengusaha ia juga harus bekerja sesuai label: keramik. Sebagai seniman ia bebas menggunakan apa saja.

Kebebasan tersebut sudah beberapa tahun ini dilakoni. Ia mulai memfokuskan diri sebagai seniman sejak terjadi gempa bumi di Yogyakarta, 2006. Sebelum masa itu, ia sangat sibuk mengurus manjemen perusahaan keramik, karena yang dilayaninya sangat banyak, baik dari dalam maupun luar negeri.

Kala itu, ia begitu intensif sehingga waktu untuk bekerja bagi dirinya sendiri nyaris susah. Kesempatan untuk berkesenian secara idealis muncul berbarengan dengan situasi pasa keramik yang mulai menurun akibat gempa bumi.

Siapa sangka, sejak tahun itu pula, Timbul menjadi seorang yang harus tetap bekerja untuk membeayai perusahaan maupun membeayai dirinya sendiri sebagai seniman.

Seni yang dikerjakan Timbul awalnya—ketika sebelum gempa bumi—banyak dikerjakan untuk pameran-pameran yang dikerjakan di kampus atau untuk pameran industri, maupun kelompok pameran dengan minat utama keramik.

Hal ini mulai berubah sejak lima tahun terakhir dengan mulai terbukanya orientasi bahan yang lain dalam pikirannya. Salah satu diantaranya adalah logam.

Karya-karyanya yang berbasis logam tidak dikerjakan baru-baru ini saja. Pilihannya berlatar belakang karena ia pernah belajar dan kuliah di almamaternya saat ini di Minat Utama Kriya Logam, Jurusan Kriya Seni.

Berbasis kemampuan dasar inilah ia mengerjakan semua karya-karya yang ada dalam pameran yang unik ini. Timbul dengan berbagai kreativitasnya mulai memberi khasanah yang berbeda dengan para perupa yang lain. Ia memberi sumbangan pemikiran dan kreasi baru dalam seni rupa kontemporer di Yogyakarta maupun di Indonesia.

Teknologi dan materi logam secara historis memiliki sejarah yang panjang. Kebudayaan Nusantara sendiri salah satu titik pijaknya adalah masa Logam, tepatnya masa Perunggu, dimana negara dan kapak menjadi materi dan artefak penelitian utama pada ahli sejarah.

Setidaknya sejak abad 6 SM., logam telah berkembang di Indonesia. Perkembangan ini lalu menyeruak pada era dan zaman lanjutannya. Sejarah logam semacam ini setidaknya telah memicu Timbul dalam menciptakan karya-karya yang memungkinkan sebagai kelanjutan hasil-hasil kebudayaan yang ada di Indonesia.

Keramik dan logam sama-sama disenangi oleh Timbul, meskipun ia merasa diantara keduanya memiliki tingkat pengerjaan yang sangat berbeda. Jika persamaannya adalah bahwa kedua jenis karya ini tergolong berat, maka perbedaannya juga banyak.

Secara teknik, pengerjaan keramik dinilai lebih kompleks, rumit, prosesnya berlapis-lapis, dan hasilnya memiliki tingkat yang berbeda-beda, bisa sesuai dengan keinginan maupun terjadi secara alamiah.

Adapun dalam seni logam, secara teknik memiliki pengerjaan yang tidak terlalu rumit. Hasilnya pun bisa diprediksi. Teknik mengonstruksi bahan atau material logam membuat karya-karya seninya dengan mudah dilakukan dan cepat pengerjaannya.

Karya-karya seni logam yang disajikan kali ini secara konseptual merupakan hasil dari pemikirannya dalam menggabungkan materi dan teknik yang saling berbeda.

Keunikan utama karya Timbul adalah ketika ia menanggulangi persoalan (keras, getas, dan pemakaian api dalam mengolah) logam dan dipecahkan dengan teknik-teknik yang dipakai dalam seni keramik.

Timbul banyak mengerjakan karya-karya logamnya dengan menyajikan figur-figur yang berongga seperti halnya konvensi dalam keramik. Rongga adalah syarat utama dalam karya seni keramik tiga dimensional.

Secara teknik, ia tidak memakai teknik cor (sebuah teknik yang selalu melekat dengan materi logam: besi, kuningan perunggu, emas, dan lain-lain). Ia lebih memilih cara aditive atau menambah bahan sedikit demi sedikit atau satu per satu, yakni dengan teknik mixing atau las.

Langkah pertama ia membuat cetakan figur dari tanah liat (atau karya keramik yang sudah jadi) yang digunakan sebagai “negatif” untuk meletakkan material yang disusun secara teratur.

Setelah terpasang teratur, maka dilakukan langkah berikutnya, pengelasan. Dalam karya-karyanya, pengelasan dilakukan dengan membangun figur dengan material yang dipakai secara manual satu per satu.

Setelah figur terbentuk dan berdiri, langkah berikutnya adalah finishing. Dalam proses finishing, ia lebih sering menggunakan proses galvanis dengan menggunakan silver coating powder, sehingga menggunakan kesan warna ke-perakan.

Jenis warna-warna perak dalam hal ini ada dua jenis: solid dan antique. Timbul menggunakan keduanya secara bersamaan, baik dicampur atau dikombinasi maupun sendiri dalam setiap karya.

Warna perak yang dipakai ini tentu saja menaikkan prestise material mentah yang sebelumnya harganya tak seberapa. Diubahnya warna besi menjadi warna perak memunculkan kesan eksklusif pada karya-karya tersebut.

Bahan-bahan atau material yang dipakainya pun tidak serta merta merupakan bahan logam utuh. Timbul banyak menggunakan materi logam yang semula merupakan benda pakai seperti paku dan ring untuk bangunan atau kendaraan.

Paku yang dipakai adalah jenis paku reng kayu ukuran antara 5-10 sentimeter, sedangkan ring yang dipakai berukuran diameter 3 sentimeter. Bahan-bahan semacam ini menyebabkan karya-karya Timbul lebih pas disebut sebagai found object artworks atau karya seni benda temuan berbasis logam. Paku dan ring adalah benda yang murah, lumrah, dipakai setiap orang, akan tetapi ketika di tangan Timbul menjadi karya yang bernilai tinggi.

Dengan teknik konstruksi dan las, Timbul memiliki kesempatan untuk mengerjakan karya dari ukuran kecil maupun raksasa. Berbeda dengan keramik yang tidak mampu dikerjakan dalam ukuran sangat besar.

Jika karya-karyanya berukuran besar maka ia membuat karya-karyanya dapat dibongkar-pasang (knock-down). Knock-down yang dilakukan adalah dengan membuat kunci-kunci pengait seperti halnya pemasangan batu-batu pada candi. Dengan teknik ini, ia mampu membuat karya maupun pameran ini disajikan secara monumental.

Terdapat 17 karya seni logam yang dipamerkan kali ini. Karya-karya ini dikerjakan antara 2009-2012. Semuanya dikerjakan di studionya di Desa Kasongan. Ia melakukan kerja seni logam yang berukuran gigantik pertama untuk pameran “Exposign” yang digelar di Jogja Expo Center 2009.

Pada pameran selanjutnya ia memamerkannya pada pameran seni kriya di Surabaya maupun pada sejumlah pameran (formal maupun tidak formal) di Yogyakarta.

Mungkin jika Anda melintasi dan masuk dalam areal Bandar Udara Adisucipto Yogyakarta akan melihat atau berpapasan dengan karya seni logam ini. Pameran yang digelar di luar ruang bertajuk “Pegasus di Malioboro” ini menjadi ajang paling penting baginya, karena ini merupakan debut pameran tunggalnya.

Keunikannya yang lain adalah bahwa meskipun sebagai pengusaha keramik, ia tidak pernah meninggalkan dasar-dasar pengetahuannya atas material logam, dan melakukan kerja sebagai seniman.

Ia dengan antusias melakukan berbagai terobosan material yang terkadang dilupakan oleh para kriyawan dan perupa yang lain, bahkan oleh para pematung. Keunikan material, teknik dan penyajian di luar ruang ini setidaknya menjadi penanda bahwa Timbul tidak pernah setengah hati untuk berkarya sebagai seniman.

Jika ada kritik, gosip, atau rerasan mengenai peran dan eksistensi Timbul lebih sebagai perajin (yang dianggap levelnya di bawah seniman) setidaknya teratasi karena pameran ini. Semoga pameran ini merupakan titik pijak yang dapat membangun kiprah seni Timbul di kemudian hari. +++

kaf #2

3

Graphic1

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Selamat malam dan Salam Sejahtera.

Yang Terhormat,

Kepala Dinas Pariwisata D. I. Yogyakarta

Bapak Edi Susilo,anggota DPRD D I Yogyakarta,

Yang Kami Hormati ,

Rektor ISI Yogyakarta,yang diwakili oleh Pembantu Rektor I, Bapak Dr. Agus Burhan.

Ketua Umum KAsongan Art Festival, Bapak Dr. Timbul Raharjo, M.Hum.

Semua jajaran Panitia KAsongan Art Festival

Rekan-rekan Dinas Kebudayaab dan Pariwisata Kabupaten Bantul.

Kepala Dinas Perindustrian,  Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Bantul.

Jajaran Muspika Kecamatan KAsihan.

Rekan-rekan seniman dan pengrajin.

Hadirin sekalian yang berbahagia, Puji dan Syukur marilah senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena kita masih diberi kesempatan, diberi kekuatan, dan kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita dan pengabdian kita kepada umat, masyarakat serta bangsa dan Negara tercinta.

Hadirin Sekalian Yang Berbahagia,

Wisata sebagai asset pendapatan asli daerah merupakan salah satu upaya setiap daerah untuk melakukan pemberdayaan serta pengembangan potensi daerah atas berlakunya otonomi daerah. Untuk itu pembangunan pariwisata memerlukan focus yang lebih tajam serta mampu memposisikan diri sesuai dengan potensi yang ada dengan diimbangi oleh perencanaan yang matang dan upaya peningkatan kompetensi sumberdaya yang berkualitas.

Dengan mempertimbangkan potensi yanga ada, pengembangan pariwisata di kabupaten Bantul telah menggunakan konsep pariwisata yang menekankan pada pengembangan berdasarkan pada kearifan local, termasuk seni budaya untuk menciptakan image dan memperkenalkan serta mengembangkan wisata yang memiliki cirri khas tersendiri. Semua ini telah menjadi keunikan tersendiri yang memungkinkan menjadi daya tarik wisata, baik bagi wisatawan domestic maupun mancanegara.

Hadirin sekalian,

Kabupaten Bantul telah menjadikan pariwisata sebagai salah satu sector andalan dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Bantul memiliki banyak potensi wisata yang beragam yang masing-masing memiliki karakter budaya dan nilai sejarah, seperti yang saat ini tengah dikembangkan, salah satunya yakni kawasan wisata KAsongan.

Hadirin Sekalian,

Dari sekian banyaknya potensi wisata ternyata belum tergarap secara maksimal terbukti masih rendahnya masyakarat untuk berkunjung di beberapa lokasi wisata. Gambaran realitas tersebut menjadi cambuk dan pekerjaan rumah tersendiri bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Bantul bersama seluruh elemen tentunya untuk mengkaji secara mendalam serta mengupayakan sejumlah lokasi wisata alternative untuk bisa dikunjungi masyarakat bukan hanya warga Bantul tetapi juga warga dari sejumlah daerah sekitar.

Kehadiran Desa Wisata Kasongan inilah yang seolah menjawab tantangan selama ini. Lokasinya yang secara geografis berada di jalur utama Jl. Jogja-Samas secara tidak langsung wahana wisata ini sebagai terobosan alternative yang dapat dibanggakan. Kehadirannya diharapkan dapat dijadikan embrio wisata bagi objek-objek wisata di sekitarnya.

Terkait dengan kegiatan Kasongan Art Festival ini, saya menyampaikan apresiasi yang sebesarnya kepada semua pihak, sehingga even akbar pada tahun ke -2 ini dsapat terlaksana. Terlebih kepada segenap masyarakat Kasongan yang notabene berperan sebagai salah satu stakeholder pembangunan memiliki peran strategis tidak saja sebagai penerima manfaat pengembangan, namun sekaligus sebagai pelaku yang mendorong keberhasilan pengembangan kepariwisataan di daerah ini. Sehingga partisapasi dan dukungan masyarakat sangat dsibutuhkan dalam rangka penciptaan kondsisi yang mampu mendsorong tumbuh dsan berkembangnya insdustri pariwisata, antara lain dari unsure keamanan, kebersihan, ketertiban, kenyamanan, keindahan, keramahan dan unsure kenangan. SEhingga pad aakhirnya Kasongan dsapat menjadi SDestinasi Wisata/Obyek daerah Tujuan Wisata yang menarik dan berdaya saing serta memberikan nilai manfaat secara ekonomi dsan kesejahteraan bagi masyarakat Kasongan itu sendiri.

Hadirin Sekalian,

Demikian yang dapat saya sampaikan. Akhirnya, dengan terlebih dahulu memohon ridho Allah SWT Tuhan yang Maha Kuasa, dan seraya mengucapkan “ Bismillahirahmanirrahim”, pada hari ini Ahad, 09 Desember 2012, “ KAsongan Art Festival ke II” secara resmi saya nyatakan dsibuka. Sekian. Mohon maaf atas segala kekurangan dan terimakasih atas perhatiannya.

Wassalamu’alaikum. Wr.Wb.

Bantul, 09 Desember 2012

Bupati Bantul

HJ. Sri Surya Widati.